Thursday, March 31, 2011

Modifikasi Yamaha Scorpio 2005

Yamaha Scorpio Ala Casey Stoner, Jurus Tipu-Tipu

Jadi ingat motor Casey Stoner pada 2009 lalu. Jelas karena yang punya memang penggila Ducati. Enggak bisa punya GP1, ya tinggal rombak Scorpio miliknya. Jurus tipu-tipu yang dilakukan sakses menipu banyak orang. Ubahan yang dilakukan seolah ekstrem dan muuaaahal. Taunya, nggak lo.

Saat melihat kaki-kaki misalnya. Tampilan sekarang memang sudah jauh lebih kekar dari standar. Semua pasti mengira kalau itu pakai limbah moge atau produk variasi. Salah alias enggak betul. Semua masih komponen standar.

"Depan masih pakai sok asli. Hanya dikasih kondom menggunakan pipa," kata Adhen Pangestu dari bengkel Adhen Modified (AM) yang punya ide murah meriah dan bikin heboh ini. Selain pengiritan dari segi biaya, trik ini juga membuat ukuran tabung sok jadi sesuai dimensi bodi. Tentunya untuk mengejar harmonisasi.

Selain itu karena menggunakan pelek variasi yang tidak terlalu lebar, hanya 3 inci, maka dimensi sok ini jadi lebih pas. Begitu juga untuk sektor kaki belakang. Dengan bodi yang sudah besar seperti ini dipastikan masih menggunakan monosok asli. Apa nggak ambles tuh bro seperti yang sering dihadapi Scorpio umumnya?

Lengan ayun sekarang juga terlihat lebih besar layaknya punya moge. Sekali lagi itu masih pakai bawaan motor. "Custom dengan penambahan pelat besi dan dibentuk seperti aslinya Ducati," kata pria yang buka bengkel di Jl. Buncit Raya No. 57A, Jakarta Selatan ini.

Kelar di urusan kaki, baru deh ayah satu anak ini merancang bodi. "Fokusnya lebih kepada penyesuaian ukuran. Kalau bentuk tinggal jiplak motor Stoner tadi," tambahnya jujur.

Kejeliannya menjiplak memang terbukti, coba deh lihat desain buntut yang memang copy paste dari motor balap MotoGP musim kompetisi 2009 itu. Daaan, semuanya dibuat dari fiberglass.

Tapi, karena motor ini tetap akan dipakai di jalan raya, peranti seperti head lamp masih tetap dipertahankan. Jadi, ya tidak buta layaknya motor balap di trek.

"Posisi lampu rada ngumpet di bagian bodi depan, kalau jalan malam tetap dinyalakan dan masih mumpuni," tambah pria 31 tahun yang tidak atau lupa melengkapi diri dengan spion. Lupa apa lupa ya?

Trik lain yang dipakai Adhen buat mekelabui orang yang melihat ada pada knalpot undertail. Pas banget dengan desain bodi yang sudah seperti ini. Ssstt... itu gak fungsi. Hiasan doang, cuy!

Lalu, di mana dong saluran buangnya? "Knalpot asli dan fungsi ada di bawah, dekat fairing sebelah kanan," cerita Adhen sambil ngakak. Itu murni custom sendiri dengan menggunakan ujung knalpot mobil. (motorplus-online.com) 

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Pirelli 120/70-17
Ban belakang : 180/55-17
Pelek : Okinawa
Setang : Custom

Premium Vs Pertamax

Premium Vs Pertamax Pada Sepeda Motor, Mana Lebih Efisien?

OTOMOTIFNET - Kendati Mentri ESDM menyatakan kalau motor boleh menggunakan bensin Premium, namun pro-kontra wacana yang terjadi beberapa minggu lalu bikin penasaran. Terlebih oleh ekspertis, pemakaian Pertamax, performa mesin jadi meningkat dan irit pemakaian bahan bakar.

Nah, untuk menjawab kebenaran itu, OTOMOTIF mencoba membandingkan penggunaan bensin Premium dan Pertamax di tiga motor berbeda, 2 bebek dan 1 skutik (skuter matik). Untuk uji cobanya, dilakukan ke motor yang TVS Rockz 125 keluaran 2009 & Kawasaki EDGE keluaran 2010 dan skutik Suzuki Skydrive lansiran 2009. Apa benar pakai Pertamax lebih efisien daripada pakai Premium? Yuk, kita tes.

Premium

Pertamax

Pertamax bikin pembakaran lebih sempurna

Saat pengetesan, spidometer dipanteng pada kecepatan 40-60 km/jam
KONSUMSI

Pada pengetesan ini, masing-masing motor tes diisi secara bergantian dari Premium lalu Pertamax. Metode pengetesannya, bahan bakar sebanyak 1 liter dimasukkan ke dalam tabung khusus. Kemudian rider (berbobot 80 kg), nyemplak motor yang dipakai dalam proses pengetesan.

Kecepatan yang dipakai adalah rata-rata pemakaian dalam kota (40-60 km/jam). Hasil dari ujicoba ini baru kelihatan setelah bahan bakar yang diisikan dalam tabung khusus habis.

Oke, sekarang hasilnya. Saat Rockz pakai Premium, untuk 1 liternya bisa dipakai buat menempuh jarak 41 km. Sementara pada motor tes jenis skutik, mesin motor mampu bertahan hidup sampai menempuh jarak 32 km.

Ketika bahan bakarnya di­ganti dengan Pertamax, bebek India tersebut mampu berjalan sampai 47 km dan Skydrive bisa melenggang kemudian berhenti setelah 33 km.

PERFORMA

Untuk mengetahui performa perbandingan kedua bensin itu, OTOMOTIF sempat mengetesnya beberapa bulan lalu (OTOMOTIF edisi 35/XIX hal 18).

 Seberapa besar perubahan power dan torsi yang didapat dilakukan pada Kawasaki Edge, dengan menggunakan alat Dyno Test (Dynojet) milik bengkel Sportisi Motorsport di kawasan Rawamangun, Jaktim.

Ketika nenggak Premium, diperoleh power maksimalnya 7,08 dk/7.400 rpm. Sedangkan torsi puncak yang dapat diraih 7,51 Nm/4.200 rpm. Begitu minumnya Pertamax, didapat angka 7,07 dk/7.700 rpm untuk power dan torsi maksimumnya 7,85 Nm/4.100 rpm (lebih detail lihat tabel).

VALUE FOR MONEY

Untuk kegiatan se­hari-harinya, dengan asum­si pemakaian bahan bakar bisa memakan jarak 100 km. Jika melihat data tes pemakaian premium pada TVS Rockz sebesar 41 km/liter, maka dalam sehari perlu mengeluarkan dana Rp 10.800 untuk beli sekitar 2,4 liter (100 km dibagi 41 km/liter) Premium.

Sementara bila ‘minum’ Pertamax, untuk beli 2,1 liter (hasil tes 47 km/liter) perlu merogoh kocek Rp 13.650. (data pengeluaran per bulan lihat tabel).

Pakai Pertamax enggak hanya jarak tempuh juga dana ikutan nambah
Nah, pada Suzuki Skydrive, maka per liternya sanggup menempuh jarak 32 km untuk Premium dan 33 km bila nenggak Pertamax. Anggaran untuk membeli bahan bakarnya Rp 13.950 (Premium) dan kalau beli Pertamax butuh Rp 19.500

KESIMPULAN

Bila dilihat dari hasil pengetesan, memang benar bahwa pemakaian Pertamax membuat jarak tempuh jadi lebih jauh. Dengan kata lain, pemakaian bahan bakar jadi lebih irit.

Namun, pengeluaran konsumen per bulan untuk beli bahan bakar jadi lebih besar sekitar 30%.

Sementara untuk performa motor yang pakai Pertamax, dari hasil pengetesan memang terlihat catatan torsinya naik. Itu berarti mesin cukup responsif di putaran bawah.
Tabel hasil dyno
Bensin Power Torsi
Standar (Premium) 7,08 dk / 7.400 rpm 7,51 Nm / 4.200 rpm
Pertamax 7,07 dk / 7.700 rpm 7.85 Nm / 4.100 rpm
Tabel biaya pemakaian sejauh 100 km perhari
Motor/bahan bakar Km Liter Liter per hari Per bulan
TVS Rockz
Premium 32 3,1 Rp 13.950 Rp 418.500
Pertamax 33 3 Rp 19.500 Rp 585.500
Suzuki Sydrive
Premium 41 2,4 Rp 10.800 Rp 324.000
Pertamax 47 2,1 Rp 13.650 Rp 409.500

D-Tracker 150 Vs KLX 150

Adu Spesifikasi D-Tracker 150 Vs KLX 150: Serupa, Tapi Performa? Baca Dulu, Deh!

OTOMOTIFNET - Beberapa saat lalu kami sudah kasih bocoran soal kemunculan motor sport terbaru Kawasaki berkonsep supermoto. Malah kami pun telah memaparkan sedikit gambaran spesifikasi serta performanya untuk Anda.

Motor tersebut tak lain adalah D-Tracker 150 yang sempat dipajang PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) dalam gelaran Tumplek Blek ke-13 di Senayan awal Mei kemarin. Merupakan penjelmaan dari versi trailnya, yakni KLX 150.

Dengan begitu artinya D-Tracker 150 masih dibekali dapur pacu single cylinder 4-Tak SOHC dengan kapasitas murni 144 cc yang mampu menghasilkan tenaga maksimum 8,60 kW (11,5 dk) di 8.000 rpm dan torsi maksimum 12 Nm pada 6.500 rpm. Sistem pemasok bahan bakarnya juga masih sama, karburator (Keihin NCV24).

Mesin masih sama dengan KLX 150

IFinal gear diberatkan menyesuaikan lingkar roda

Upside down ayunannya lebih mantab
"Mesin dan frame sama persis dengan KLX 150. Cuma beda di kaki-kaki dan final gear," beber Reiner M. Sitorus, senior manager spare part & service department KMI. Kalau KLX pekgo menggunakan ban depan ukuran 70 / 100 - 19 dan 90 / 100 - 16 pada bagian belakang, maka di D-Tracker 150 diganti jadi 100/80-14 (depan) dan 120/80-14 (belakang).

Nah, kerena per­bedaan lingkar ro­da itu, otomatis final gear ikut disesuaikan. Bila KLX mengusung perbandingan 44/14, maka pada D-Tracker diberatkan jadi 41/14. Makanya, tak heran kalau kemampuan lari kedua motor ini agak berbeda.
Bila akselerasi KLX cenderung galak di putaran bawah ke tengah dan napas mesin singkat-singkat, maka D-Tracker cenderung sip di kitiran menangah ke atas dan bernapas panjang tiap giginya.

Dari hasil pengujian yang kami lakukan, top speed KLX pekgo cuma bisa tembus 105 km/jam bila dilihat pada spidometernya yang mi­nimalis. Itu dengan bo­bot rekan Mr.Testo 76 kg.
Sementara pada D-Tracker jarum penunjuk kecepatannya masih bisa sampai mentok (125 km/jam). Tapi kalau diukur riil menggunakan Race Logic buatan Inggris, KLX hanya bisa meraih 100 km/jam. Sementara D-Tracker mencapai 110 km/jam.

Rupanya perubahan perbandingan gir tadi juga berdampak pada pemakaian bahan bakar. Pada pemakaian normal dalam kota, D-Tracker cenderung lebih irit.
"Dengan cara berkendara pada umumnya di perkotaan yang sesekali digeber top speed, konsumsi motor ini bisa tembus 36 km/liter," papar Mr.Testo. Sementara KLX bermain di angka 34 km/liter.

Menurut Freddyanto Basuki, manajer marketing dan promosi KMI, D-Tracker 150 akan resmi diperkenalkan KMI pada khalayak umum dalam event Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2010 yang akan digelar mulai 10 Juni hingga 11 Juli ini. Jadi bagi yang belum sempat melihat motor ini dari dekat di acara Tumplek Blek kemarin, jangan sampai melewatkan kesempatan deh di Jakarta Fair ya.

Kawasaki Ninja 250R Vs Minerva Megelli 250 RV

Komparasi Kawasaki Ninja 250R Vs Minerva Megelli 250 RV

OTOMOTIFNET - Baru setahun merilis Minerva Megelli Sachs 250R, belum lama ini PT Minerva Motor Indonesia (MMI) kembali ngeluarin versi terbaru Megelli 250 (RE & RV) dengan mesin anyar 250 cc berpendingin cair alias pakai radiator. Tak heran bila langkah MMI ini kontan saja mengundang reaksi para pemilik Megelli generasi lama.

Pasalnya kalau cuma ganti mesin, tapi performanya masih sama saja sih mungkin enggak begitu masalah bagi mereka. Ini justru terjadi perbaikan tenaga yang cukup signifikan. Semula max powernya (Megelli 250R) hanya sekitar 20 dk, kini pada mesin generasi kedua (RE & RV) itu bisa mencapai 26 dk / 8.500 rpm. Sementara torsi maksimum mencapai 22,8 Nm / 7.000 rpm.

Malah sumber lain menyebutkan kalau tenaga puncak yang terukur pada kruk as mesin generasi baru yang konon hasil kolaborasi Sachs Jerman dengan sebuah R&D mesin asal Italia, Progetti Sviluppo tersebut, tembus 27,22 dk di putaran 9.200 rpm. Sementara torsi max mencapai 17,2 lb.ft atau sekitar 23,3 Nm di putaran 7.700 rpm.

Nah, bila melihat hasil segitu, performa Megelli seri II bisa dibilang nyaris mendekati performa rival sekelasnya, Kawasaki Ninja 250R yang notabene mesinnya sudah berkonvigurasi 2 silinder segaris plus didukung teknologi DOHC (masing-masing silinder dijejali 4 buah valve). Oleh pabrikannya dapur pacu Ninja 250 diklaim mampu membukukan power maksimum 31,38 dk / 11.000 rpm dan torsi puncak 22 Nm / 9.500 rpm.

Memang sih di atas kerta tenaga maksimum Ninja masih lebih tinggi 4 - 5 dk dari Megelli 250 RE & RV. Namun untuk torsi puncak, Megelli masih unggul sekitar 1 Nm. Apalagi torsi segitu didapat pada putaran mesin yang lebih rendah dari Ninja 250R. Sehingga bukan tidak mungkin, kemampuan akselerasi di putaran bawahnya bakal lebih mantap Megelli atau minimal setara. Apalagi bobot Megelli lebih enteng sekitar 17 kg dibanding Ninja 250R yang berat kosongnya mencapai 152 kg.

Selain itu berdasarkan hasil tes Mr. Testo pada Megelli 250 RV beberapa waktu lalu di sirkuit Sentul, Jabar, motor ini sanggup mencatat top speed sekitar 157 km/jam. Beda tipis dengan Ninja 250R standar yang mampu mencapai 160 km/jam.

Nah, kebetulan tim OTOMOTIF juga sempat menjajal akselerasi kedua tunggangan bergaya moge sport itu dengan mengukurnya pakai performace test merek Race Logic buatan Inggris. Penasaran kan pengin tau hasilnya. Yuk, kebet saja boks hasil pengukuran akselerasinya.
Data Spesifikasi
Megelli 250 RV Ninja 250 R
Mesin
Tipe 4-tak 4 valve, OHC 4-tak DOHC, 8 valve
Sistem pendingin Cair (radiator) Cair (radiator)
Jumlah silinder 1 silinder 2 silinder
Kapasitas murni 249,6 cc 249 cc
Rasio kompresi 11:1 11,6:1
Max power 26 dk / 8.500 rpm 31,38 dk / 11.000 rpm
Max torque 22,8 Nm / 7.000 rpm 22,0 Nm / 9.500 rpm
Sistem pelumasan wet sump wet sump
Fuel Grade Unleaded Unleaded
Sistem Kopling Basah Basah
Transmisi 6 - speed 6 - speed
Pengoperasian 1 - N - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 1 - N - 2 - 3 - 4 - 5 - 6
Sistem pengapian CDI TCI
sistem start Elektrik Elektrik
Sistem bahan bakar Karburator, TK MV34 Karburator, Keihin CVK30 x 2
Sasis
Tipe Multi twin sparTrellis Configuration Tubular, Diamond
Rear swing arm T6 Alumunium Trellis Unitrack
Suspensi belakang Fast Ace Upside down Teleskopik
Sokbreker belakang Fast ace, Monosok Monosok
Tinggi jok 800 mm 775 mm
Wheelbase 1.350 mm 1.400 mm
pelek depan Rim alumunium 2,75 x 17" 2,75 x 17"
Pelek belakang Rim alumunium 3,50 x 17" 3,50 x 17"
Ban depan 100/70-17 tubeless 100/70-17 tubeless
Ban belakang 130/70-17 tubeless 130/70-17 tubeless
Berat kosong 135 kg 152 kg
Spidometer Koso OEM Japan
Data akselerasi Megelli 250 RV  Kawasaki ninja 250R
0 - 60 km/jam 3,7 detik 3,2 detik
0 - 100 km/jam 9,6 detik 8,1 detik
0 - 201 meter 10,7 detik 10 detik
0 - 402 meer 17,1 detik 16 detik 
Top speed 157 km/jam 160 km/jam

perbandingan Tiga Skutik 125cc

Meskipun Beda Kasta, Mari Bandingkan Tiga Skutik 125cc Ini?

OTOMOTIFNET - Pasar skutik 125 cc yang awalnya hanya diisi Suzuki dengan tiga modelnya, kini lengkap diisi 3 pabrikan besar. Seiring munculnya Honda PCX dan Yamaha Xeon. Untuk memberi panduan Anda, OTOMOTIF menghadirkan ketiganya dan mengujinya. Oh iya, Suzuki diwakili Skywave.

Oh ya, demi memudahkan, seperti biasa parameter pengujian terbagi jadi 5; model atau desain, fitur & teknologi, handling, performa & konsumsi bahan bakar, harga. Penasaran dengan hasilnya? Simak terus!

Model/ Desain

Nuanasa elegan tersirat kuat pada desain PCX. Garis bodi melengkung dipadu lampu depan besar, jok lebar dengan punuk di tengahnya. Apalagi minim stiker, hanya ada emblem model timbul. Skywave juga cukup elegan, tapi agak futuristik dengan lampu melengkung. Bodi dan jok pun lumayan lebar. Mantap menumpu bokong.

Paling beda roh yang dibawa Xeon. Kesan sporti begitu kental, dengan garis bodi lurus-lurus, detailnya pun menyiratkan hal itu, seperti spidometer yang bisa dibilang sangat futuristik.

PCX, kaya akan fitur dan teknologi

Xeon paling ringan, lincah untuk manuver

Skywave harga paling terjangkau
Fitur & Teknologi

Di skutik Honda yang didatangkan utuh dari Thailand itu, bisa dibilang paling lengkap. Seperti idling stop system (ISS), sistem injeksi, pendinginan mesin pakai cairan (liquid cooled), combi brake system hidrolik, remote control, side stand switch, dan bagasi sangat besar (muat helm full face).

Yamaha Xeon dibekali beberapa teknologi baru. Di antaranya piston tempa (forged piston), silinder berlapis DiASil, TPS (Throttle Position Sensor), pendinginan mesin pakai cairan (liquid cooled). Bagasi bisa menampung helm half face.

Suzuki Skywave bisa dibilang sederhana. Lantaran paling lama beredar. Yang menonjol side stand switch, secondary air filter, capasitor bank, dan bagasi besar yang bisa menampung helm full face.

Sedang fitur yang sama-sama diusung ketiganya di antaranya; kompartemen mungil di bawah setang, dan kunci bermagnet yang sekaligus untuk membuka jok. Sedikit beda pada PCX, untuk membuka jok dan tutup bensin perlu memencet tombol di sebelah lubang kunci.

Handling

Bodi dan bobot yang besar (125 kg) membuat PCX terasa mantap kala diajak bermanuver. Suspensi depan dan belakang ganda mampu memberi peredaman maksimal. Tak goyang kala menikung. Hanya saja ground clearance yang rendah, membuatnya gampang menggesek aspal. Terutama standar tengahnya.

Xeon dengan bodi yang mungil (103 kg) terasa sangat ringan. Kala menikung ekstrem jadi terasa agak melayang. Namun  itu membuatnya gampang meliuk-liuk di antara mobil saat macet. Sayang suspensi belakang terasa agak keras kala bertemu jalan jelek atau speed trap.

Suspensi Skywave terasa empuk, namun tetap stabil kala menikung. Roda berdiameter 16” (paling besar) membuatnya lebih nyaman kala lewat jalan rusak, lantaran tak gampang terperosok. Beratnya hanya 113 kg.

Performa & Konsumsi BBM

Meski ketiganya punya kapasitas mesin sama, tapi konfigurasi, teknologi, dan bobot berbeda-beda. Makanya hasil yang ditorehkan pun tak sama. Mau tahu hasilnya? Silakan amati tabel hasil pengujian menggunakan Racelogic dari Inggris.

Konsumsi bensin diukur dengan cara mengisi bensin penuh pakai Pertamax, odometer dicatat. Lalu untuk jalan seperti sehari-hari. Setelah itu diisi penuh lagi dan dicatat jarak tempuhnya. Maka diketahui konsumsi BBM-nya.
Daya akselerasi PCX Xeon Skywave
0-60 km/jam 7,3 detik 6,5 detik 5,29 detik
0-80 km/jam 15,8 detik 12,1 detik 11,71 detik
0-100 m 8,9 detik 8,5 detik 9,35 detik
0-201 m 14 detik 13,2 detik 14,14 detik
0-402 m 22,7 detik 21,1 detik -
Top speed 110 km/jam 105 km/jam 110 km/jam
Konsumsi bbm 45,4 km/liter 39 km/liter 36 km / liter

Harga


Salah satu faktor paling berpengaruh dalam memilih motor adalah harga. Meski kapasitas mesin sama, ternyata harga berbeda-beda seiring dengan teknologi dan fitur yang diusung.
Harga (OTR Jakarta)
PCX Rp 32 juta
Xeon Rp 15,5 juta
Skywave Rp 14,3 juta

yamaha byson

Gagahnya Miniatur Moge


OTOMOTIFNET - Pasar motor sport di Tanah Air semakin ramai, setelah jagoan baru dari ATPM berlambang garputala, PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), meluncurkan  Byson 150 beberapa waktu lalu.

Dengan mengandalkan mesin 150 cc, Yamaha menyasar peminat tunggangan gagah dengan harga RP 19,9 juta (on the road, Jakarta).

Terlihat jelas, tampilan Byson layaknya motor besar, dengan tangki bensin gambot, plus penggunaan sokbreker dengan diameter besar serta pelek dan ban lebar. Belum lagi, knalpot pun diberi penutup kotak besar, sehingga membuatnya tampak seperti miniatur moge.

Memang, tangki besarnya hanya kondom yang menyelimuti tangki berkapasitas 12 liter. Tetapi, ukuran diameter sokbreker 43 milimeter, boleh dibilang terbesar untuk motor sport di kelasnya, bahkan kelas di atasnya.

Radius putar setang kurang lincah di lalu-lintas padat

Katalisator pada knalpot emisi gas buang ramah lingkungan

Ban lebar penampilan baik dan pengendalian stabil
Posisi duduk Byson memang nyaman, setang dengan ketinggian cukup untuk rata-rata orang dewasa di Indonesia, serta lebarnya pun pas untuk digenggam kedua tangan. Hanya terasa saat melaju di padatnya lalu-lintas perkotaan, radius putarnya lebar sehingga kurang lincah.

Tetapi, untuk melakukan perjalanan jauh seperti turing ke luar kota, kenyamanan Byson sungguh terasa, bantingan suspensi depan dan belakang tak sampai membuat orang yang duduk di atas jok terasa pegal. Masih bisa nyaman selama perjalanan.

Bantingan suspensi ini pun sangat berhubungan dengan pengendaliannya, meski empuk masih bisa memberikan pengendalian yang stabil di jalan menikung maupun lurus. Terasa efek ban lebar sebagai standarnya mampu memberikan kemampuan ini buat Byson.

Sistem rem juga bisa memberikan pengurangan laju nyaman dan akurat. Tentu saja, karena memang terasa hal yang sedikit menggelitik buat penunggangnya. Tarikan Byson boleh dibilang sehalus bantingan suspensinya. Tak terasa galak di putaran menengah maupun atas.

Untuk berakselerasi, tergolong sedang-sedang saja, bahkan ketika dicoba untuk mencapai kecepatan 100 km/jam. Pada spidometer menunjukkan angka 105 km/jam, namun pada alat ukur, Vericom VC2000, akselerasi dari posisi diam hingga kecepatan 100 km/jam, pada unit yang kami tes ini tak bisa mencapainya. Mungkin perlu di uji pada Byson yang lain.

Namun, teknologi yang diusung mesinnya cukup baik, seperti penggunaan roller rocker arm pada pelatuk klep, serta adanya katalis di knalpot menjadikan Byson irit dan ramah lingkungan.

Kecanggihan ini pun ditunjukkan pada tampilan panel instrumen, seperti takometer digital dengan lampu yang menunjukkan putaran mesin menggantikan model jarum seperti saudara-saudaranya yang lain, semisal Scorpio dan V-Ixion.

Sayangnya, ketika melaju di siang hari, perlu konsentrasi sendiri untuk memperhatikan petunjuk kitiran mesin per menit itu. Tak semudah model jarum yang bisa terlihat dengan jelas dan cepat.

Namun, di balik semua itu, jika menginginkan kuda besi yang berpenampilan keren dan gagah, Byson bisa menjadi pilihan. Sepertinya tak salah Yamaha memperkenalkan model ini di pasar motor sport dalam negeri.
Hasil test
0-60 km/jam 6,00 detik
0-80 km/jam 11,02 detik
0-100 km/jam tidak tercapai
0-100 m 7,87 detik
0-201 m 12,52 detik
0-402 m 21,52 derik
Konsumsi bahan bakar (L/Km) 1/32 (kombinasi)

Perbedaan Honda New CBR150R Vs CBR 150R

Mengintip Perbedaan Honda New CBR150R Vs CBR 150R



OTOMOTIFNET
- Beberapa waktu lalu, Honda CBR 150R boleh dibilang jadi favorit penggemar motor sport di Indonesia. Sejak 2005 tunggangan 150 cc itu, dijual importir umum, karena memang tidak masuk ke pasar lokal lewat ATPM Honda.

Waktu pun berlalu, tetapi model Honda CBR tak berganti seiring jalannya waktu. Hingga beberapa saat lalu di negeri Gajah Putih diluncurkan Honda CBR 150R yang memilik tampilan berbeda dibanding pendahulunya.

Bentuknya benar-benar beda, bahkan terkesan lebih besar ketimbang model sebelumnya. Fairing dan desain lampu benar-benar menunjukkan kalau rancangannya kali ini dibuat lebih agresif dan dinamis.

Mulai dari depan hingga buritan, garis-garis tegas dipadu lengkungan aerodinamis membuat tampilan CBR 150R ini memang pas untuk penyuka kecepatan. Namun, seperti kakaknya yang berkapasitas 250 cc, posisi duduk pada CBR 150R ini tidaklah terlalu membungkuk, sehingga masih nyaman digunakan di padatnya lalu-lintas perkotaan.


Muffler dengan pelindung jadi tren. Spidometer terinspirasi dari VFR 1200
Ditilik lebih jauh, tampang CBR 150 maupun kakaknya yang berkapasitas seperempat liter, mirip Honda VFR 1200, motor sport touring. Baik lekukan lampu utama maupun fairing-nya mirip.

Begitu pun knalpotnya, jika tampilan depan terinspirasi dari VFR 1200, sementara di knalpot desainnya pun terdapat dari moge Honda, yaitu Honda CBR 1000RR yang  memiliki desain agak kotak pada muffler-nya, begitu pun pada CBR 150R ini, tepatnya trapezoid.

 Meski, sebagian merupakan cover yang menutupi muffler ‘asli' di dalamnya. Tetapi saat ini memang seolah menjadi tren tersendiri soal cover knalpot ini. Selain melindungi pengguna maupun orang lain dari tersengat panas knalpot, juga bisa membuat tampilan lebih bergaya.

Nah, aliran gas buang ini kan memang berujung di knalpot, tetapi sumbernya tentu di sang jantung motor, yaitu mesin 150 cc yang digendong di kolong tangki bahan bakar. Mesin ini masih berspesifikasi sama, mesin 4 langkah, 4 katup DOHC, berpendingin cairan dengan kipas elektrik sebagai pendingin pada radiatornya.

Memang tampak sama dengan mesin lama, hanya beberapa hal seperti penutup kopling dirancang lebih futuristis. Pembeda paling besar adalah pada sistem pasokan bahan bakarnya. Tak lagi karburator, tetapi menggunakan teknologi lebih canggih.

Sistem bahan bakar injeksi khas Honda, PGM-FI, menjadi sumber masukan bahan bakar untuk mesinnya. Dengan sistem injeksi ini, diharapkan mampu menekan emisi gas buang serta lebih efisien dalam konsumsi bahan bakarnya.

Begitu pun kapasitas bahan bakarnya menjadi lebih besar, sekitar 13 liter. Sementara transmisinya masih menggunakan 6 percepatan, seperti pendahulunya. Lantas, penggunaan rem cakram di roda belakang pun tetap diandalkan untuk mengurangi laju CBR 150R ini.

Bagian futuristis lainnya bisa terlihat pada spidometer. Tentu spidometer dengan panel instrumen digital dan tampilan analog yang mengutamakan takometer ini, terinspirasi juga dari moge Honda VFR 1200.

Tinggal kita tunggu saja kapan tungganan ini masuk Tanah Air.
THANK YOU FOR VISITING FRIENDS TO MY BLOG SIMPLE.DO NOT FORGET TO FOLLOW my blog, FB LIKE ME, AND IT HERE EXCHANGE LINKS,DO NOT FORGET TO WRITE DOWN YOUR COMMENTS I WILL DIRECT YOUR TRIPBACK,, ^ _ ^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...